Kamis, 08 Maret 2012

TAUHID ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI


Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para  Nabi dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid. "Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada  Tuhan  selain  Aku, maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).

"Wahai  kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya."

Demikian ucapan Nabi  Nuh,  Hud,  Shaleh  dan  Syu'aib  yang diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.

Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung  dari Allah:

"Aku  yang  memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang diwahyukan (padamu): 'Sesungguhnya Aku adalah  Allah,  tidak ada  Tuhan  selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'" (QS Thaha [20] 13-14)

Nabi Isa a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya:

"Isa  berkata  (kepada  Bani  Israil),  'Hai  Bani   Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang
mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan  baginya  surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orarg yang aniaya." (QS Al-Maidah [5]: 72)

Namun, walaupun semua nabi membawa ajaran  tauhid,  terlihat melalui   ayat-ayat   Al-Quran  bahwa  ada  perbedaan  dalam pemaparan mereka tentang prinsip tauhid. Jelas sekali  bahwa Nabi  Muhammad  Saw.,  melalui Al-Quran diperkaya oleh Allah dengan  aneka  penjelasan  dan  bukti,  serta  jawaban  yang membungkam siapa pun yang mempersekutukan Tuhan  Allah  Swt.  menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat mereka.  Karena  itu hampir tidak ada bukti-bukti logis yang dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada  akhirnya setelah  mereka  tetap  membangkang,  jatuhlah  sanksi  yang memusnahkan mereka:

"Maka  topan  membinasakan   mereka,   dan   mereka   adalah orang-orang aniaya" (QS Al-'Ankabut [29]: 14).

Ketika  tiba  masa Nabi Hud a.s. -yang masanya belum terlalu jauh dari Nuh- pemaparan beliau hampir tidak berbeda, tetapi di  sana  sini  telah  jelas bahwa masyarakat yang diajaknya berdialog, memiliki kemampuan berpikir sedikit di atas  umat Nuh.  Karena  itu, pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan oleh   Hud   a.s.   disertai   dengan   peringatan   tentang nikmat-nikmat  Allah  yang  mereka dapatkan. Dalam rangkaian ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan keesaan  Allah,  Hud mengingatkan:

"Ingatlah  (nikmat  Allah)  oleh  kamu sekalian ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang  berkuasa)
sesudah  lenyapnya  kaum  Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada  kaum  Nuh),  maka  ingatlah nikmat-nikmat  Allah  supaya kamu mendapat keberuntungan (QS Al-A'raf [7]:  69,  dan  juga  dalam  QS  Al-Syu'ara'  [26]: 123-140)

Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi Hud a.s. lebih luas dan rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas pula. Mereka misalnya diingatkan tentang asal kejadian mereka dari tanah atau tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud [11]: 61).

Akal yang mampu mencerna dapat memahami bahwa asal  kejadian manusia  berasal  dari  tanah  -dalam arti bahwa sperma yang dituangkan  ke  rahim  istri  berasal  dari   makanan   yang dihasilkan  oleh bumi. Manusia yang memiliki akal yang dapat mencerna ini  atau  walau  hanya  memahaminya  secara  umum, pastilah  lebih  mampu  dari  mereka yang sekadar dipaparkan kepadanya nikmat-nikmat Ilahi, sebagaimana halnya  kaum  Hud dan Nuh- Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi Shaleh:

"Dan kepada Tsamud (Kami mengutus)  saudara  mereka  Shaleh. Dia  berkata,  'Wahai  kaumku  sembahlah  Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah dating bukti  yang  sangat  nyata  kepadamu;  unta betina Allah ini sebagai bukti untuk kamu ...'" (QS Al-A'raf [7]: 73).

Ketika tiba masa Syu'aib, ajakan dakwahnya lebih luas  lagi, melampaui batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya. Kali  ini  ajaran  tauhid  tidak   saja   dikaitkan   dengan bukti-bukti,  tetapi  juga  dirangkaikan  dengan hukum-hukum syariat. "Dan kepada penduduk Madyan (Kami mengutus)  saudara  mereka Syu'aib.   Ia   berkata,   'Hai   kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.  Sesungguhnya telah  datang  kepadamu  bukti  yang nyata dan Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan  timbangan,  dan  janganlah  kamu kurangkan    bagi    manusia   barang-barang   takaran   dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan  di  bumi sesudah  Tuhan  memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu  benar-benar  orang  yang  beriman.'"  (QS Al-A'raf [7]: 85).

Ayat  ini  bahkan  menggugah  jiwa dan menuntut mereka untuk membangun satu masyarakat yang penuh dengan  kemakmuran  dan keadilan. Setelah  itu,  datang  ajakan  Nabi  Ibrahim, yang merupakan periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan Yang Maha  Esa. Nabi  Ibrahim a.s. dikenal sebagai "Bapak Para Nabi," "Bapak Monoteisme,"  serta  "Proklamator  Keadilan  Ilahi"   karena agama-agama  samawi terbesar dewasa ini merujuk kepada agama beliau. Ibrahim a.s.  menemukan  dan  membina  keyakinannya  melalui pencarian    dan   pengalaman-pengalaman   keruhanian   yang dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti  bukan  saja dalam  penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana diuraikan dalam surat Al-An'am ayat  75,  tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. Menarik untuk diketahui bahwa beliaulah  satu-satunya  Nabi  yang  disebut Al-Quran bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan  beliau  itu dikabulkan Allah (QS Al-Baqarah [2]: 260)

Para  ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang  mempengaruhi  atau  bahkan  mengubah  jalannya sejarah kemanusiaan. Tetapi, seperti ditulis Abbas Al-'Aqqad dalam Abu Al-Anbiyya': "Penemuan yang dikaitkan dengan  Nabi Ibrahim  a.s.  merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan. Ia  tidak  dapat  dibandingkan  dengan  penemuan  roda, api, listrik,  atau  rahasia-rahasia  atom  -betapapun   besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai oleh manusia.  Penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa  dan  raga manusia.   Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk kepada  alam  menjadi  mampu  menguasai  alam,  serta menilai baik buruknya.  Penemuan manusia dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang,  tetapi  kesewenangan-wenangan  ini tidak  mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim a.s. tetap menghiasi jiwanya.  Penemuan tersebut berkaitan dengan apa   yang   diketahui   dan   tidak-diketahuinya  berkaitan kedudukannya  sebagai  makhluk,  dan  hubungan  makhluk  ini dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makhluk sesamanya."  Karena  itu  ketika  memaparkan  tauhid kepada umatnya, Nabi mulia ini tidak lagi berkata  sebagai  Nabi-nabi  sebelumnya berkata,

"Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki Tuhan selain-Nya," tetapi dinyatakannya, "Sembahlah  Allah  dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu  lebih  baik  untukmu  kalau  kamu  mengetahuinya"   (QS Al-'Ankabut [29]: 16)

Dan  dinyatakannya  bahwa  Tuhan  yang disembah adalah Tuhan seru sekalian alam,  bukan  Tuhan  suku,  bangsa  dan  jenis makhluk tertentu saja. "Sesungguhnya  aku  menghadapkan  wajahku  kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan  cenderung  kepada  agama yang  benar,  dan  aku  bukanlah  termasuk  orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS Al-'An'am [6]: 79).

"Dia (Ibrahim) berkata (kepada kaumnya),  'Sebenarnya  Tuhan kamu  adalah  Tuhan  seluruh  langit  dan  bumi  yang  telah menciptakannya, dan  aku  termasuk  orang-orang  yang  dapat memberikan  bukti  atas  yang  demikian  itu" (QS Al-Anbiya, [21]: 56).

Terlihat juga dari Al-Quran  bagaimana  beliau  "berdiskusi" dengan  umatnya  dalam  rangka membuktikan kesesatan mereka, dan menunjukkan kebenaran akidah tauhid (antara  lain  surat Al-Anbiya, [21]: 51-67). Demikianlah  tahap  baru dalam uraian tauhid, dan karena itu -seperti  ditulis  oleh  Abdul-Karim  Al-Khatib  dalam  buku karyanya, Qadhiyat Al-Uluhiyyah baina Al-Falsafah wa Ad-Din- sejak Nabi Ibrahim, sampai dengan nabi-nabi sesudahnya tidak dikenal   lagi   pemusnahan   total   bagi  umat  satu  Nabi sebagaimana yang terjadi terhadap umat-umat sebelumnya. Pemaparan tauhid pun dari hari ke hari  semakin  mantap  dan jelas   hingga  mencapai  puncaknya  dengan  kehadiran  Nabi Muhammad Saw.

Uraian Al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad Saw. dimulai  dengan  pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun. "Bacalah demi Tuhan-Mu yang  menciptakan  (segala  sesuatu). Dia  telah  menciptakan  manusia  dari  'alaq.  Bacalah  dan Tuhan-mulah yang  (bersifat)  Maha  Pemurah,  yang  mengajar manusia  dengan  qalam,  mengajar  manusia  apa  yang  tidak diketahui(-nya)" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).

Dalam  rangkaian  wahyu-wahyu  pertama.  Al-Quran   menunjuk kepada kepadaTuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan) Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata "Allah."1 Hal ini untuk menggarisbawahi Wujud  Tuhan  Yang  Maha  Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya. Dari  satu  sisi  memang  dikenal  satu  ungkapan  yang oleh sementara pakar dinilai sebagai hadis Qudsi yang berbunyi:

"Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak  untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku."

Di   sisi   lain,   tidak  digunakannya  kata  "Allah"  pada wahyu-wahyu pertama  itu,  adalah  dalam  rangka  meluruskan keyakinan  kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata "Allah" untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan  mereka tentang  Allah  berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam. Mereka  misalnya  beranggapan  bahwa  ada  hubungan   antara "Allah"  dan  jin (QS Al-Shaffat [37]: 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita  (QS  Al-Isra'  [17]:  40),  serta manusia  tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan Allah, karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para  malaikat dan      berhala-berhala      perlu     disembah     sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah (QS  Al-Zumar [39]: 3)

Dan   kekeliruan-kekeliruan  itu,  maka  Al-Quran  melakukan pelurusan-pelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai  gaya bahasa,  cara dan bukti. Sekali dengan pernyataan tegas yang didahului dengan sumpah, misalnya:

"Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan  demi  (rombongan)  yang  melarang  (perbuatan  durhaka) dengan sebenar-benamya, dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran.   Sesungguhnya  Tuhanmu  benar-benar  Esa,  Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara  keduanya,  dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari" (QS Al-Shaffat [37]: 1-5).

Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman, "Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang  banyak  bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" (QS Yusuf [12]: 39).

Kemudian  Al-Quran  juga   menggunakan   gaya   perumpamaan, seperti:

"Perumpamaan  orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba  yang  membuat  rumah. Sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui" (QS Al-'Ankabut [29]: 41).

Ayat  ini  memberi  perumpamaan  mengenai  orang-orang  yang meminta  perlindungan  kepada selain Allah, sebagai serangga yang berlindung ke sarang laba-laba. Serangga itu tentu akan terjerat  menjadi  mangsa laba-laba, dan bukannya terlindung olehnya. Bahkan jangankan serangga yang berlainan  jenisnya, yang  satu  jenis  pun  seperti  jantan  laba-laba, berusaha diterkam  oleh  laba-laba  betina  begitu   mereka   selesai berhubungan  seks.  Kemudian telur-telur laba-laba yang baru saja menetas, saling tindih-menindih sehingga  yang  menjadi korban adalah yang tertindih. Dalam  kesempatan lain, Al-Quran memaparkan kisah-kisah yang bertujuan menegakkan  tauhid,  seperti  kisah  Nabi  Ibrahim ketika   memorak-porandakan   berhala-berhala  kaumnya  (QS Al-Anbiya' [21]: 51-71)


Sumber : http://media.isnet.org

Tidak ada komentar:

Web Hosting

Awan Kintown